Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Ketika Warga Gaza Ingin Pesan KFC


 Blokade zionis tidak lantas membuat warga Gaza kehilangan akal saat ingin menikmati ayam goreng renyah KFC. Tidak apa mereka harus bayar mahal dan menunggu berjam-jam sampai pesanan datang, asal perut kenyang.

Menurut laporan kantor berita Xinhua pekan ini, warga Gaza bisa memesan ayam KFC walaupun diblokade. KFC dipesan dari restoran di el-Arish sebelah utara Sinai, Mesir. Perusahaan pengantar KFC dari Mesir ke Gaza, Al-Yamama, mengaku tidak mudah mengantarkan KFC ke Gaza.



Para pengantarnya tidak menggunakan sepeda motor. Melainkan berjalan kaki menelusuri terowongan bawah tanah yang menghubungkan Mesir dan Gaza. Selain itu, para pengantar harus melalui pos pemeriksaan Hamas yang ketat.

Belum lagi taksi yang datangnya selalu telat. Ditambah lagi resiko diterjang roket Israel. Tidak heran, proses pengantaran KFC ini bisa memakan waktu hingga empat jam. Ayam dipastikan sudah dingin.

Maka wajar jika Al-Yamama mematok harga hingga tiga kali lipat dari harga normal. Biasanya, paket keluarga hanya seharga US$11, namun jika dikirim ke Gaza bisa mencapai US$30. Tapi tetap saja, pesanan banyak berdatangan.

Blokade Israel diterapkan pada 2006 terhadap Gaza. Tapi berbagai bahan kebutuhan pokok berhasil masuk melalui terowongan dari Mesir.
Selain makanan, di antaranya yang dikirimkan lewat terowongan adalah alat bangunan hingga persenjataan. Pernah juga dikirimkan binatang ternak, bahkan singa untuk kebun binatang, melalui terowongan menuju Gaza.


Kamis, 07 Maret 2013

Seorang Turis Membagi Makanan Dengan Pengemis Tua Di China


Rendahnya moral masyarakat kota di China sering kali menjadi sorotan. Banyak warga yang tidak peduli dengan kesusahan tetangga ataupun orang yang mendapatkan musibah dijalan. Biasanya warga kota di Cina lebih memilih tidak menolong ataupun berlagak tak melihat. Banyak contoh kasus yang sempat menjadi pembicaraan di dunia maya, seperti kasus balita Yue Yue yang dilindas 4 kali oleh mobil, tergeletak di pinggir jalan dan tidak diberikan pertolongan oleh 18 orang yang melewati tubuh Yue Yue yang tergeletak tak berdaya.
Photobucket
Kini muncul di dunia maya dan  menjadi pembicaraan ketika seorang laki-laki muda asing terlihat membagi makanannya dengan seorang pengemis wanita tua di depan gerai Mc Donald. Di gerbang dari sebuah toko McDonalds, seorang pemuda tampan asal Amerika bernama Jason Loose membeli dua kantong kentang goreng dan Ayam kemudian memberikan satu untuk seorang pengemis wanita tua. Mereka duduk berdampingan, makan dan mengobrol. Kemurahan hari Jason membuat beberapa orang tersentuh mengingatkan rendahnya standar moral masyarakat kota Cina.
Tepat  Di gerbang dari sebuah toko MacDonalds di Guangzhou Road di Nanjing, Jason Loose dan ibu tua itu duduk berdampingan, makan dan mengobrol. Jason  bahkan menuangkan air murni untuk si ibu tua itu. Akhirnya Jason Loose
menjadi selebriti semalam di Cina. Pria muda Amerika terkejut ketika seorang wartawan Cina dari Xiandai Kuaibao ingin mewawancarainya.  Jason menjawab “Ini bukan hal yang istimewa sama sekali. Bahwa Anda datang untuk mewawancarai saya untuk hal ini membuat saya malu..” Pemuda Amerika ini  berkata kepada reporter, “Mereka adalah manusia, saya juga manusia. Mereka pantas mendapatkan sedikit hormat dan perhatian. Ini benar-benar bukan apa-apa selain  makan dan mengobrol dengan mereka. ”
Photobucket
Wartawan menanyakan apa saja yang diobrolkan, Jason menjawab bahwa mereka mengobrol sebentar dan berkenalan satu sama lain. Ibu itu mengatakan dia berusia 80 tahun dan berasal dari Provinsi Anhui. Dia baru datang dari Nanjing dan tak punya pilihan selain hidup mengemis karena anak-anaknya tidak dapat menampung kehidupannya.  Jason juga mengatakan bahwa dia pernah bekerja kasar dan kotor, jadi buatnya tak peduli apakah penampilan seseorang kotor atau tidak buatnya asalkan memiliki hati yang bersih.
 
Saat wartawan mengatakan bahwa  orang China mengatakan orang asing tidak memahami kondisi nasional Cina. Sebagian besar pengemis adalah curang dan tidak layak bantuan dari orang lain. Jason menanggapi dengan bijak. Dia menjawab jika dia  benar-benar tidak memahami kondisi China. Dia tak lebih  tamu sementara saja. Namun Jason berharap wanita tua bukanlah penipu. Tetapi jika dia benar-benar penipu, Jason mengatakan dia tetap membantu sebisanya karena tetap wanita tua itu lebih menyedihkan karena harus menjadi pengemis. Siapapun akan terharu dengan perhatian yang diberikan Jason, bahkan ketika banyak yang mengkritik dia memberikan makanan tak sehat kepada wanita tua, Jason juga menjawab dengan tenang, bahwa dia akan memberikan makanan yang lebih sehat seperti buah atau roti jika memiliki kesempatan lain bertemu lagi dengan ibu tua itu.
Jason Loose, anda pahlawan moral !


Senin, 26 November 2012

Suami Lumpuh Istri Menggendongnya Untuk Mengajar

Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.


Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000).

Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.

Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.

Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu,” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.

Menopang Suami
Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.
 
Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan. Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin.

Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.

Hampir Terpeleset ke Sungai
Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih.

Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.
 
Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu. Hati Du Chanyun merasa iba.

Sang Suami Menggugat Cerai
Pada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya.Ia tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai.

Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira.

“Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja,” ujar pihak kelurahan. Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya.

“Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua.”

Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar
Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.

Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun. Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis.

Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.


Jumat, 23 November 2012

Pria Ini Menarik Becak Sambil Menggendong Bayi

Saat istrinya, Shanti diketahui hamil, Bablu Jatav luar biasa girang. Seorang anak akhirnya akan lahir, menceriakan biduk rumah tangga mereka yang sudah berjalan 15 tahun. 

Namun, malang tak bisa ditolak. Setelah melahirkan putri pertamanya, Shanti meninggal dunia 20 September 2012 lalu. Jatav pun kebingungan, ia harus tetap bekerja menghidupi diri dan putrinya, di sisi lain tak ada kerabat yang bersedia membantu merawat Damini, nama bayi itu. 
 
Akhirnya keputusan ekstrem ia ambil, tetap bekerja menarik becak sambil menggendong putrinya yang baru lahir. Damini yang berusia sebulan digendong dengan selendang bertali yang dililit di lehernya. "Sejak tak ada yang mau merawat putriku aku menjaganya sembari mengayuh becak," kata Jatav.

Namun, hidup di jalanan terlalu berat untuk seorang bayi yang masih merah. Damini dilarikan ke rumah sakit di Jaipur awal minggu ini. Ia  harus menjalani perawatan intensif akibat septikemia atau bakteri dalam darah, anemia, dan dehidrasi berat.

Untungnya bayi kecil itu kini telah menjalani perawatan dan dalam kondisi stabil. Dr JK Mittal dari Rumah Sakit Fortis di Jaipur mengatakan, Damini telah lolos dari bahaya. "Ia merespon perawatan kami dengan baik, sekarang Damini lolos dari bahaya. Kami juga ingin meny`mpaikan, berat badannya kini naik," kata dia kepada BBC. 

 
Bantuan mengalir
Kisah Jatav dan fotonya yang sedang menggendong bayi tersebar ke dunia. Bantuan pun mengalir ke ayah dan anak malang itu. 

Dalam seminggu sejak cerita pertama kali diterbitkan di situs berita BBC, uang telah mengalir dari seluruh dunia untuk membantu Damini dan Bablu Jatav. Setidaknya telah terkumpul uang US$24.236 atau sekira Rp190 juta. 

Bantuan itu diterima Bablu Jatav dengan perasaan haru. "Saya tidak tahu siapa saja para dermawan itu, dari negara mana saja mereka, yang telah terpanggil untuk membantu kami. Putri saya sangat beruntung," kata dia. 

Sementara itu, sebuah LSM di Bharatpur, Apna Ghar, saat ini mendampingi Jatav merawat bayi Damini setelah dia meninggalkan rumah sakit. "Kami bekerja sama dengan Pak Jatav dan pemerintah setempat untuk membantu mereka," pendiri Apna Ghar, BM Bhardwaj.


Senin, 19 November 2012

Banjir Bandang DiSoreang


Setidaknya 300 rumah di Kompleks Cincin Permata Indah, Desa Gandasari, Kecamatan Ketapang, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Minggu kemarin.  "Kalau untuk di Kompleks CPI (Cincin Permata Indah) itu ada 300-an rumah yang terendam," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Udjawala Prana Sigit, ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (19/11/2012) dini hari.

bantuan yang minim membuat warga kekurangan makanan juga pakaian,selain itu curah hujan yang tinggi membuat mereka membutuhkan selimut ,juga peralatan lainnya.

Mengingat banyaknya saudara kita yang terkena musibah akibat Banjir, maka izinkanlah kami selaku organisasi SMC Jember  mengharapkan bantuan dan partisipasi seluruh teman juga saudara , untuk meringankan beban yang dialami oleh saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana banjir bandang di Soreang terutama di perumahan Cincin Permata Indah, Desa Gandasari, Kecamatan Ketapang, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Kami menerima apapun jenis bantuan sumbangan yang akan di berikan baik materi maupun non materi, sesuai keikhlasan dari teman-teman. Hasil sumbangan yang yang telah terkumpul akan segera kami salurkan langsung kepada korban di. perumahan Cincin Permata Indah, Desa Gandasari, Kecamatan Ketapang, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Untuk bantuan bisa berupa pakaian layak pakai,selimut ataupun bahan makanan ataupun bahan bangunan juga lain-lainya,Untuk Sumbangan berupa pakaian layak pakai bisa dikirim ke alamat

A/n Monalisa Novi Lita
Jl tanjung sari no 158 mayang Jember 68182
Bila rekan-rekan berkenan memberikan sumbangan berupa uang , mohon ditransfer ke

Rek Mandiri
A/n Monalisa Novi Lita
143-00-125910-2
Mayang, Jember

Rek Bca
A/n 
Monalisa Novi Lita
334
0236598
cab Kalisat,Jember
YM lisna06


Apapun bentuk bantuan yang kalian berikan akan sangat berarti untuk mereka,insya allah
Agar menjadi pertimbangan bapak/ibu/saudara/I sekalian untuk membantu saudara kita, Sedikit bantuan yang kita berikan tentu sangat berarti buat mereka.
Terima kasih atas bantuan bapak/ibu/saudara/I. Semoga amal bapak/ibu/saudara/I diterima di sisi Tuhan YME.


Jumat, 03 Agustus 2012

Pelacur Cantik Tapi Bodoh ( foto+ Cerita )



Zhao Tielin, seorang fotografer dokumenter mengambil foto-foto kisah pelacur kelas bawah di China. Untuk menjalin kepercayaan mereka, Zhao menjalin persahabatan dengan mereka sejak lama secara bertahap. Dahulu Zhao sangat miskin seperti para pelacur tersebut, sehingga mereka menaruh kepercayaan kepada Zhao sekarang.


Ia merangkum kisah seorang pelacur belia berumur 16 tahun bernama samaran Ah-V. Ah-Vmempunyai seorang teman lelaki berumur 28 tahun bernama Xiao Wu yang pengangguran dan mantan narapidana dengan hukuman 10 tahun). Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Xiao Wu memenjadikan Ah-V bekerja sebagai pelacur.


Ah-V dan pacarnya

Para pelacur teman Ah-V


Inilah foto Ah-V saat hamil muda. Tidak tahu siapa yang menghamilinya

Ah-V mengaborsi kandungannya


Saat mengetahui dirinya hamil 4 bulan, Ah-V memutuskan memutuskan menggugurkan kandungannya. Tapi uangnya sebesar 400 Yuan tidak cukup. Kata dokter: "Uangnya kurang sebsar janinnya sudah cukup besar". Namun dokter akhirnya mau mengaborsi dan sebagai jaminan Ah-V diikat di pagar belakang seperti hewan peliharaan sampai teman lelakinya menebusnya.

Diikat bagai hewan


Akhirnya pacarnya menebusnya dan membawanya pulang

Orang-orang berkata kepada fotografer Zhao, "Sungguh gadis ini benar-benar bodoh".

Sering dia dibayar dengan uang palsu karena ia gadis kampung yang tak pernah sekolah


Apabila bisnis berjalan baik Ah-V berjalan-jalan (tentu saja dikawal agar tidak kabur).

Pacarnya kerap memintainya uang. A-V lah yang sebenarnya biayai kehidupan pacarnya


Xiao Wu kerap merayu Ah-V: "Aku mencintaimu, aku akan menikahimu".
Itu sebenarnya hanya tipu-tipu rayu. namun Ah-V merasa senang saja mendengarnya



Setelah melayani pelanggan, Ah-V meminta pelacur lain, Ah Lan untuk memeriksanya apakah dia terkena penyakit kelamin


Ah-V amat gembira kalau mendapat pelanggan yang kocak

Apabila ia mendapat 13 pelanggan dalam sehari, maka ia mendapat bagian 380 Yuan dari Xiao Wu. Namun ia sering sangat lemah untuk bisa melayani pelanggan karena ia sering tak bisa bangun dari ranjang.

Apabila Ah-V tidak mencapai target pendapatan sehari, Xiao Wu sering memukulnya



Saat Ah-V melacur, biasanya mangkal tidak jauh dari hotel dan Xiao Wu mengawasi dari jauh. Setelah gelap, para pelacur kelas teri ini mengumpulkan keberanian kepada para pelajalan kaki yang lewat dan menawarkan jasanya.
Sayangnya laki-laki ini tidak tertarik



Ah-V menangis karena diusir sekuriti hotel


Satu-satunya hiburan Ah-V adalah kucing peliharaannya, Mei Gui.

bersama sang kucing, Mei Gui. Latar belakang adalah pelanggan yang tidak Ah-V pedulikan

Baginya, hanya Mei Gui lah hiburan satu-satunya sebab ia menganggap bahwa hanya Mei Gui lah yang mengerti masalahnya.

Benar-benar gadis bodoh.


Rabu, 21 Maret 2012

Kisah Budak di Mauritania, Dianggap Binatang

Moulkheir Mint Yarba kembali dari merawat kambing pemiliknya-nya keluar di Gurun Sahara menemukan sesuatu yang tak terbayangkan: bayi perempuan nya, hampir bias merangkak, ditinggalkan di luar ruangan mati.
Ibu hanya bisa tabah menangis saat melihat wajah tak bernyawa anaknya, mata terbuka dan tertutup semut, beristirahat di pasir oranye padang pasir Mauritania.
Pemilik yang memperkosa Moulkheir berbicara bahwa memiliki anak hanya akan memperlambat kerjannya, ingin menghukum budaknya. Ia mengatakan bahwa ia akan bekerja lebih cepat tanpa anak di punggungnya.
Mencoba menenangkan diri, Moulkheir bertanya apakah dia bisa beristirahat untuk memberikan putrinya penguburan yang layak. Jawaban pemiliknya: tidak kembali bekerja.
"Jiwanya adalah jiwa anjing," kenang Yarba dia berkata.
Moulkheir, yang berada diusia 40-an, menceritakan kisahnya kepada CNN pada bulan Desember, ketika seorang wartawan dan videografer mengunjungi Mauritania - sebuah, bangsa di pinggiran barat Sahara yang besar juga kering - untuk menyelidiki perbudakan di tempat praktek ini bisa dibilang lebih umum, lebih mudah diterima dan lebih
keras daripada di tempat lain di Bumi.
Mendengarkan ceritanya, dua fakta menjadi sangat jelas: Di Mauritania, belenggu perbudakan adalah mental serta fisik.
Dan melanggar hak mereka


Sabtu, 17 Desember 2011

Bapak Tua Penjual Amplop



Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu. Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut.



sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya. Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak. Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi. Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”. Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu. Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.